Cara Islam Memperlakukan Buruh

May Day atau Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei, menjadi hari bagi para buruh menyuarakan berbagai keluhannya. Keluhan tentang berbagai sistem yang diangggap merugikan rakyat. May Day sempat dilarang saat pemerintahan Orde Baru berkuasa, namun di era pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi Hari Libur Nasional berdasarkan Keppres No. 24 Tahun 2013 yang dikeluarkan SBY.

Memperingati Hari Buruh Internasional ini, LDII ingin mengucapkan Selamat Hari Buruh. Semoga momentum ini bisa menjadi media evaluasi yang baik untuk negara dan bersama mensejahterakan rakyat. Selain itu, LDII juga mengajak para pengusaha dan pemimpin perusahaan untuk memperlakukan buruh sesuai ajaran Islam, di antaranya:

1. Memberikan Kebebasan Beribadah

Meskipun pemerintah telah mengeluarkan Pasal 29 ayat 2 UUD 45, Pasal 22 ayat 1 dan 2 UU No 39 Tahun 1999, Tentang Hak Azasi Manusia, dalam hal ini kebebasan beribadah, akan tetapi kenyataan dilapangan buruh masih menemukan berbagai rintangan. Larangan mengenakan hijab dan sholat adalah beberapa bentuk pelanggaran yang kerap dihadapi para buruh di tempat kerja.

Mulai dari dianggap mengurangi mobilitas kerja, memberikan gambaran fanatik, menjauhkan pelanggan dan berbagai alasan lainnya dijadikan perusahaan untuk melarang buruhnya mengenakan hijab. Padahal negara maju seperti Australia dan Inggris berani menempatkan wanita berhijab sebagai pelayan publik seperti teller, customer service, dan receptionist. Tidak jauh berbeda dengan para wanita, para buruh pria kerap mendapati masalah ibadah Sholat Jumat. Mulai dari dipotong gaji, dianggap membolos, hingga hal terburuk dikeluarkan dari perusahaan merupakan ancaman yang dihadapi para buruh pria di beberapa perusahaan.

Kisah muadzin pertama, Bilal bin Rabah pernah mengalami hal serupa. Pasca majikannya mengetahui dirinya memeluk Islam, siksaan berdatangan agar dia kembali menyembah berhala. Pukulan cambuk dan beratnya batu yang menindih badannya tidak sedikitpun mengoyahkan niatnya. Allah menunjukkan pertolongannya. Beruntung, lewat bantuan Abu Bakar, Bilal dimemerdekakan dan diajaknya memeluk Islam.

2. Membayar Buruh Sesuai dengan Kesepakatan

            Pembayaran upah yang terlambat, tidak sesuai dengan kesepakatan upah minimum kota, serta lembur yang tidak dibayar, merupakan beberapa tuntutan buruh yang kerap kita saksikan di televisi. Hal ini bertentangan dengan ajaran Rasulullah yang memerintahkan untuk membayar pelayan atau pembatu sesuai dengan kesepakatan dan tepat waktu.

Dalam sebuah riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, “Allah SWT berfirman, Ada tiga kategori golongan yang Aku menentangnya (kelak) di hari kiamat: lelaki yang berinfak kemudian ditarik kembali, lelaki yang menjual orang merdeka lalu memakan uangnya, dan orang yang mempekerjakan pekerja dan telah mendapatkan hasilnya, tetapi tidak memberikan upah,”. Selain itu Nabi juga bersabda, “Berikanlah buruh itu upahnya, sebelum keringatnya kering,” HR Ibnu Majah. Tidak membayar buruh tepat waktu dan sesuai dengan kesepakatan, menurut Islam merupakan bentuk kedzaliman.

Solopos

Solo Pos

3. Tidak Menyiksa Buruh dan Berlaku Baik

Tidak hanya berupa siksaan fisik, Rasulullah juga tidak mengajarkan mencaci atau mengucapkan kata-kata kasar pada pembantu. Anas bin Malik pelayan Rasulullah pernah berkata, “Demi Allah, aku telah membantu Baginda selama 7 atau 9 tahun. Aku tidak pernah menjumpainya mengomentasi apapun yang aku lakukan, ‘Kenapa kamu melakukan ini dan itu?’ Atau mengomentari apa yang aku tinggalkan, ‘Mengapa kamu tidak melakukan ini dan itu?’” HR Muslim.

Dalam Islam pembantu atau buruh diumpamakan sebagai saudara. sebagaimana sabda Rasulullah “Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan mereka di bawah kekuasaan kalian,” (HR. Bukhari). Nabi menyebut pembantu sebagaimana saudara majikan agar derajat mereka setara dengan saudara.

4. Tidak Memaksa Melakukan Pekerjaan Melebihi Kemampuannya

Rasulullah melarang memberikan beban tugas kepada pembantu melebihi kemampuannya. Majikan juga tidak boleh memaksa pembantunya untuk memikul beban kerja yang bisa merusak kesehatannya sehingga dia tidak bisa menunaikan kewajibannya. Jikapun terpaksa itu harus dilakukan, beliau perintahkan agar sang majikan turut membantunya. Beliau bersabda, “Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka,” HR. Bukhari No. 30.

Selain itu Nabi SAW pun berpesan kepada para majikan, “Beban yang kamu ringankan dari pembantumu kelak akan menjadi pahala bagimu dalam timbangan amal kebaikanmu” HR Ibnu Hibban.

Arsip Kontan

Arsip Kontan

5. Memperhatikan dan Memenuhi Kebutuhan Buruh

Kebutuhan pribadi buruh seperti jaminan kesehatan dan kesejahteraan lainnya dalam Islam diajarkan untuk menjadi perhatian majikan (pimpinan perusahaan). Rasulullah tidak hanya mencontohkan memberikan upah akan tetapi juga mengajarkan memberikan perhatian lebih.

Dituturkan oleh Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, “Aku pernah membantu Nabi SAW. Baginda bersabda kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, apakah kamu tidak ingin menikah?’ Aku menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah. Saya tidak ingin menikah. Saya tidak mempunyai sesuatu untuk bisa menghidupi istri. Saya juga tidak ingin menyibukkan diri hingga melupakan Tuan.’ Baginda SAW bersabda, ‘Tinggalkanlah saya.’ Setelah itu, Baginda SAW pun mengulanginya lagi.’ Aku pun menjawabnya dengan jawaban yang sama. Hingga Baginda mananyakannya yang ketiga, aku pun menjawabnya, ‘Tentu, ya Rasulullah. Perintahkanlah apa yang Tuan kehendaki, atau Tuan inginkan.’ Baginda pun bersabda, ‘Berangkatlah ke keluarga si Fulan di sebuah perkampungan kaum Anshar,” HR Ahmad dan Al Hakim. (Bahrun/Lines)

Kategori:Artikel Kegiatan

Tantangan Polemik Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

LA Port_Laura Kleinhenz_7635Perekonomian global terus mendorong negara tidak hanya berorientasi memenuhi permintaan konsumen dalam negeri namun juga luar negeri. Keterbukaan ini mulai mendekati titik kemunculan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015.

MEA atau disebut juga AEC (ASEAN Economic Community) 2015 dibentuk sebagai pusat perdagangan kawasan yang terintegrasi. Pembentukannya dimulai dari 2008 dan implementasi baru dilakukan pada 2015. MEA yang merupakan pasar basis produksi, diartikan sebagai liberalisasi aliran barang, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil. Di mana berbagai hambatan perdagangan baik bea masuk maupun non bea masuk tidak dihapus dan diturunkan.

Gagasan mewujudkan MEA 2015 sebenarnya dapat dijadikan sarana membina kerukunan antar negara ASEAN dan pusat perdagangan. Namun, apakah negara Indonesia siap dengan datangnya MEA 2015? Mengingat kondisi ekonomi Indonesia masih kalah bersaing dengan negara tetangga secara kualitas. Bahkan, efisiensi pasar tenaga kerja Indonesia masih masuk urutan 103 berdasarkan Indeks Global Kompetitif.

Fakta lain menunjukkan bahwa kualitas SDM di Indonesia masih menempati urutan 121 dari 187 negara yang dikomparasikan oleh lembaga dibawah PBB, UNDP (United Nations Development Programme). Indonesia memiliki PDB (Produk Domestik Bruto) terbesar, namun PDB per kapita kalah dengan Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand. Indonesia juga mengalami defisit neraca perdagangan, sedangkan Singapura surplus paling besar.

Perekonomian Indonesia saat ini didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun masih kurang berdaya saing dengan negara tetangga. Untuk memperoleh sumber daya diperlukan strategi khusus bagi para UKM. Serta harus meningkatkan standar desain dan kualitas produk agar sesuai dengan ketentuan ASEAN. Selain itu, UKM perlu membuat diversifikasi output dan menjaga stabilitas pendapatan usaha makro agar tidak jatuh ke kelompok orang miskin.
Inilah peran penting UMKM sebagai salah satu bagian dari 4 pilar cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sanusi Fattah, salah satu pembicara dalam FGD yang bertema “Ekonomi Syari’ah” memaparkan bahwa pemberdayaan UMKM dapat dilakukan melalui penumbuhan iklim usaha, pengembangan usaha, pembiayaan dan penjaminan UMKM, serta pengembangan kemitraan. Pada negara-negara maju, sektor ini sudah sangat maju. Bagaimana dengan Indonesia? Terutama penerapan ekonomi berbasis syari’ah yang digadang-gadang dapat memajukan perekonomian Indonesia.

“Pada dasarnya, nilai-nilai yang mereka (negara lain) kerjakan, justru sudah ada dalam ajaran Islam. Yaitu, jujur, amanah, mujhid-muzhid. Bila UMKM menerapkan dalam transaksi syari’ah tersebut, sudah pasti berkembang pesat sehingga nasabah pun melakukan pembiayaan secara syari’ah bukan konvensional. Untuk itu, agar pemahaman masyarakat akan ekonomi syari’ah meningkat, pemerintah hendaknya mengeluarkan produk hukum yang berfilosofis Islam” ujar anggota Dewan Pakar DPP LDII Ardito Bhinadi yang merupakan salah satu pembicara FGD.

Solusinya, Ardito menjelaskan, UMKM saat ini harus belajar dari kejadian ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) dimana setelah satu tahun berjalan, masih banyak UMKM yang belum mengetahui ACFTA dan hanya sebagian kecil UMKM yang optimis bisa berdaya saing. Selain itu, perlu menyusun solusi dari aspek filosofis, strategis dan implementasi. Dan terpenting, pembangunan karakter modal bagi kemajuan bangsa. (Noni/LINES)

Kategori:Artikel Kegiatan

Pembuatan Sumur Toki Masjid Ainil Yaqin

menarik palu dengan katrolSumur Toki dalam Bahasa Papua yang berarti Sumur Tumbuk. Sumur ini dibuat menggunakan batang pipa galvanis yang ditancapkan ketanah, lalu secara bertahap di tumbuk menggunakan palu berkatrol, yang ditarik oleh Banyak Orang.

Masjid Ainil Yaqin menerima asupan Air Berkarat dari Sumur Toki yang hanya sedalam 8 meter. Karenanya Saringan Air dibuat Untuk memperoleh Air Jernih dari Sumur tersebut. Namun air yang telah disaring masih mengandung sedikit karat seng. Untuk itu Warga LDII yang bertempat pada sekitaran Masjid Ainil Yaqin, setiap Jumat pagi berkerja bakti membersihkan Saringan Air dan membersihkan sisa karat keramik pada setiap kamar mandi.

Taufik salah satu Warga LDII memaparkan “setiap minggunya dibutuhkan minimal 4 botol Porstex untuk membersihkan karat keramik kamar mandi, dan dalam kurun waktu 10 tahun, terkalkulasi dana sebesar Rp 50juta, hanya untuk membeli Porstex”. Dana Fantastis ini, menjadi sorotan Saharudin selaku ketua BKM Ainil Yaqin, dan Ia berniat membuat Sumur Toki yang lebih dalam.

penyambungan pipaRapat Pengurus BKM Ainil Yaqin, Sutadji yang merupakan Ketua Pembangunan Masjid Ainil Yaqin, sependapat dengan Saharuddin. Ia memaparkan bahwa sebagian besar dataran Timika berasal dari rawa yang banyak mengandung seng.

Mengerahkan semua tenaga Warga LDII Timika, Proyek yang dipimpin lansung oleh Sutadji ini berlangsung selama 4 hari (17-20/04). Sudah 23 meter kedalaman sumur, belum membuahkan air jernih. Barulah pada penghujung hari ke 4, Warga dapat bernafas lega, dengan kedalaman 30 meter, air jernih berhasil ditemukan. Dalam wawancara pada salah seorang Warga, Eko Susilo berkata “Sumur Toki yang di buat secara beramai-ramai ini, menghemat biaya sampai 200%”.

pengecekan airDibuat secara bersama-sama, Sumur Toki ini hanya memakan dana Rp 150 ribu permeternya. Pada umumnya Tukang Sumur Toki, membandrol setiap kedalaman 1 meter dengan Rp 450 ribu. (izul firdaus/Papua)

Kategori:Artikel Kegiatan

Pramuka Dekat dengan Pendidikan Karakter

DSC_0283Sebagai bentuk evaluasi keputusan Munas LDII 2011 tentang Kepanduan, LDII menghelat FGD PPG dan Pramuka, Sabtu (19/4). Edwin Sumiroza Korbid Departemen PKOSB (Pemuda, Kepanduan, Olahraga, dan Seni Budaya), menilai Pramuka dekat dengan pendidikan karakter dan baik untuk diadaptasi. Menurutnya Pramuka juga dapat digunakan untuk membantu pembinaan generasi penerus, terutama ditinjau dari ranah afeksi dan psikomotorik.

“Selama ini sistem pendidikan di Indonesia melulu dominan pada ranah kognitif dan tidak banyak menyentuh kepada afeksi anak. Diharapkan dengan Pramuka pendidikan tersebut dapat diakomodasi dengan baik,” papar Edwin dalam FGD. Dirinya mencotohkan penanaman pendidikan afeksi menghormati orang tua lewat praktik memasak dan mencuci baju sendiri. Edwin menjelaskan melalui kegiatan tersebut anak dirangsang untuk merasakan susahnya dan beratnya orang tua meramut dan membesarkan anak. Dengan demikian diharapkan anak dapat lebih menghormati dan menghargai jerih payah orang tua yang membesarkan mereka.

Dalam pemaparannya Edwin juga menjelaskan afeksi tentang nilai yang terkandung dalam kalimat syahadat juga dapat dilakukan lewat kegiatan Pramuka. Kegiatan Pramuka yang dilakukan di outdoor dapat menyisipkan pesan tentang kebesaran Sang Pencipta. Gunung yang tinggi menjulang dan laut yang luas diharapkan dapat menjadi media yang ampuh mendekatkan diri siswa Pramuka dengan Allah SWA.

Selain itu menurutnya dalam praktik Pramuka juga dapat disisipi dengan muatan agama Islam, seperti sholat, adzan, menjadi khotib, amil, mengurus jenazah dan masih banyak lagi lewan pemberian tanda kecakapan khusus (TKK). Tidak hanya itu, Pramuka juga dinilai LDII mendukung program Trisukses Generasi Penerus yaitu faqih, berakhlaqul karimah, dan mandiri. LDII menilai ketiganya dapat diakomodasi dengan baik lewat Pramuka.

Acara FGD yang dihadiri oleh berbagai Sakoda di lingkungan Sako Sekawan Persada Nusantara seperti Sakoda Lampung, Jakarta, Jatim, Jateng, dan Jabar ini diharapkan dapat menghasilkan formula yang tepat dalam pendidikan Pramuka yang bercorakkan Islam sesuai yang dicitakan LDII. Hal ini senada dengan UU Nomor 12 Tahun 2010 tetang Gerakan Pramuka yang mengisyatkan Pramuka Sako dapat memiliki warna jati diri yang khas, selama dengan tujuan memberi pembinaan generasi penerus. Hasil FGD ini akan disampaikan dalam Rekernas, Mei mendatang yang rencananya dihadiri oleh Kak Adhyaksa Dault, Kwarnas Pramuka Indonesia yang baru saja terpilih. (Bahrun/Lines)

 

Kategori:Artikel Kegiatan

Kiat LDII Melahirkan Pemimpin Masa Depan

CIMG0971Sangat mudah membangun jembatan, jalan raya, pabrik, bahkan pesawat. Tapi bangsa ini kesulitan membangun karakter generasi penerus bangsa. Untuk membangun karakter generasi penerus, LDII fokus pada Tri Sukses Generasi Penerus.

Tri Sukses Generasi Penerus menekankan kepada setiap anak-anak warga LDII mulai dari usia dini hingga dewasa memiliki: akhlakul karimah, kepahaman agama yang kuat, dan mandiri. Ketiganya harus sejalan agar mewujudkan harapan generasi mendatang yang lebih baik. Serta dilatarbelakangi kewajiban melestarikan ilmu sehingga ada kelanjutan dan tidak sampai lost generation.

“Orang tua pun akan bangga dengan mempunyai anak yang sholih dan sholihah serta mandiri. Anak adalah tambang emas bagi orang tua” ujar Bashori salah satu penggagas Penggerak Pembina Generus (PPG), yang menjadi pembicara pada Focus Group Discussion, Sabtu (19/4) lalu.

Untuk mewujudkan Tri Sukses, LDII membuat program PPG yang melibatkan ulama, guru, orangtua, dan pengurus. Program dalam PPG berupaya mewujudkan generasi yang unggul, berkarakter, tak terpengaruh dengan budaya-budaya negatif dari efek globalisasi. PPG memiliki tugas membuat kurikulum untuk mewujudkan Tri Sukses Generasi Penerus.

Bashori menjelaskan generasi yang berakhlakul karimah, adalah generasi yang memiliki akhlak yang baik, “Tidak hanya kepada teman, namun juga kepada orang tua dan guru ataupun orang yang dituakan. Memiliki akhlak yang baik, akan mudah diterima oleh masyarakat,” ujar Bashori.

Yang kedua, generasi yang berilmu, tidak hanya generasi yang menguasai ilmu-ilmu dalam masyarakat namun juga mengaplikasikan ilmu yang ada dalam Alquran dan Alhadits. Generasi masa kini membutuhkan agama sebagai pegangan dan penyeimbang hidup agar moral dan perilaku terjaga, serta sadar akan kebutuhan untuk beribadah. Bukan menjadikan ibadah itu sebagai beban. Sehingga, ketika generasi muda mengalami masalah dapat diselesaikan dengan pikiran logis dan ‘kepala dingin’ bukan dengan kekerasan.

Kemudian uraian Tri Sukses yang ketiga adalah kemandirian. Dimana sejak kecil, pra remaja dan remaja sudah harus dibina melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Dengan demikian, diharapkan pengetahuannya berkembang, psikomotorik dan afektifnya berjalan. Di masa depan, generasi muda tidak ragu lagi dan bisa sukses hidup mandiri tanpa bergantung dengan orang lain. Tentunya, kemandirian ini didukung dengan kegigihan dan kesabaran dari generasi itu sendiri sebab, mencapai suatu keberhasilan tidak serta merta langsung didapat.

“Penyusun kurikulum pendidikan dalam program PPG ini, mengikutsertakan pakar-pakar pendidik, pakar psikolog dan juga guru atau ulama-ulama pondok, serta pakar-pakar organisasi agar kurikulum ini bersinergi tidak hanya mengacu pada satu sisi. Semua bersinergi memenuhi kaidah-kaidah kurikulum yang ideal untuk pendidikan bangsa. Targetnya, menghasilkan generasi profesional religius berkarakter dalam rangka membangun peradaban bangsa”, kata Bashori. (Noni/LINES)

Kategori:Artikel Kegiatan

Panglima TNI Jenderal Moeldoko: “LDII Memiliki Nilai Strategis Membangun Karakter Bangsa”

Panglima TNI-DPP-1Menjelang Rapat Pimpinan Nasional DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada 13-16 Mei 2014, LDII mengadakan audiensi dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Dalam kesempatan itu, LDII menawarkan konsep pelibatan ormas dalam sistem pertahanan nasional, sebagai bentuk pelaksanaan bela negara sesuai pasal 27 ayat 3 UUD 1945 bahwa “ setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara”.

Pertemuan antara pengurus DPP LDII dan Jenderal Moeldoko dilaksanakan pada Kamis (17/4) di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu Panglima TNI menyatakan bahwa LDII memiliki peran dan nilai strategis dalam membangun karakter bangsa, “LDII telah membina generasi muda di segala bidang, baik agama, keterampilan, cinta tanah air, olahraga dan lain sebagainya,” ujar Jenderal Moeldoko.

Panglima TNI-DPP-2Jenderal Moeldoko mencontohkan bagaimana perguruan Shaolin mampu membangun karakter generasi muda di Cina sejak dini. Mereka didik sejak usia kanak-kanak hingga dewasa, untuk menjadi pendekar yang tangguh. “Inilah pembangunan karakter. Saya berharap LDII dapat membina generasi penerus bangsa sehingga mempunyai karakter yang kuat, dan profesional religius,” ujar Jenderal Moeldoko. Dalam pertemuan itu Panglima TNI didampingi Asisten Teritorial (Aster) Mayjen TNI Ngakan Gede Sugiartha Garjitha dan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya.

Panglima TNI-DPP-5Di samping beraudiensi, Ketua Umum DPP LDII Prtof Dr Ir KH Abdullah Syam, MSc menyerahkan surat undangan Rapimnas LDII 2014 kepada Jenderal Moeldoko. Abdullah Syam dalam paparannya mengungkapkan kegiatan LDII, selain dakwah, juga membangun karakter generasi muda sejak dini di berbagai bidang. “Setiap warga LDII dibina sejak usia dini. Untuk jenjang kanak-kanak disebut sebagai cabe rawit, muda-mudi, hingga usia dewasa. Untuk keluarga dibekali dengan pelatihan mengasuh anak, membina keluarga sakinah,” kata Abdullah Syam.

LDII meyakini bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI adalah harga mati, untuk itulah LDII menanamkan wawasan kebangsaan dalam berbagi seminar dan pengajian di lingkungan LDII. “Kami ingin mewujudkan generasi yang professional religious, berkarakter kuat, dan cinta tanah air,” ujar Ketua DPP LDII Ir H. Prasetyo Sunaryo, MT.

Menanggpi pemaparan LDII, Jenderal Moeldoko mengungkapkan pentingnya peranan LDII dalam membangun umat Islam agar tidak terpecah-pecah dan bisa saling bekerjasama, baik sesama ormas maupun dengan lembaga negara antara lain dengan TNI, agar terciptanya NKRI yang kuat.

“Saya menyayangkan ada pemahaman umat Islam yang keliru, orang Islam yang tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang beragama Islam, yang hidup dalam keberagaman, baik suku, agama, dan kebudayaan, karena itu Islam mengajarkan agar kita bisa hidup berdampingan dengan sesama warga demi tercapainya Indonesia yang satu,” ujar Jenderal Moeldoko. Persoalannya, menurut Panglima TNI, ada beberapa elemen kelompok Islam yang memaksakan kepahaman mereka itu dan menebarkan bibit permusuhan ke umat beragama lain. Memecah belah kesatuan bangsa. Secara blak-blakan mengkafir-kafirkan orang lain dan lain sebagainya.

“LDII berdasarkan Alquran dan Alhadist berarti tidak ada yang menyimpang. Apalagi asas organisasinya UUD 1945 dan Pancasila, yang mengedepankan kesatuan dan persatuan bangsa dalam keberagaman. LDII harus selalu bisa menjaga pluralisme dan mau bekerjasama dengan umat beragama lain,” ujar Jenderal Moeldoko.

Jenderal Moeldoko meminta LDII membuat nota kesepahaman atau bekerjasama dengan TNI

membina karakter bangsa dam membangun karakter generasi muda yang kuat. Sehingga ada gerakan yang sama di bawah seperti di Korem, Kodim, dan Babinsa, bekerjasama dengan LDII melakukan dakwah bersama dengan sekaligus memasukkan materi membangun karakter bangsa. “Selain itu, banyak sektor lain yang bisa kita kerjasama. Penandatanganan nota kesepahaman bisa dilakukan pada saat Rapimnas LDII bulan Mei mendatang,” ujarnya.

DSC_4816Hadir dalam pertemuan Dewan Penasihat DPP LDII KH Abdul Syukur), KH. Abdullah Syam, H. Prasetyo Sunaryo, H. Chriswanto Santoso, H. Dody Taufiq Wijaya, H. Abu Bakar Sidiq, H. Hidayat Nahwi Rosul, H. Ashar Budiman, H. Rully Kuswahyudi, dan Eko Mugianto. (Eko/LINES)

Kategori:Artikel Kegiatan

Membangun Kembali Kejayaan Maritim Indonesia

Fgd mengenai sejarah kemaritiman Indonesia disampaikan oleh Prof .Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum, Dr. Hendrik E. Niemeijer, Prof Dr. Susanto Zuhdi M.Hum, dan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

Fgd mengenai sejarah kemaritiman Indonesia disampaikan oleh Prof .Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum, Dr. Hendrik E. Niemeijer, Prof Dr. Susanto Zuhdi M.Hum, dan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai “Negara Maritim” berdasarkan struktur geografis yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan. Namun, benarkah julukan yang telah melekat berpuluh-puluh tahun lamanya merupakan identitas Indonesia jika visi kemaritiman belum terlaksana sebagaimana mestinya?

Negara Indonesia dinilai tidak memiliki landasan konseptual dan legalitas yang jelas,” ujar Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono, salah satu narasumber pada Focus Group Discussion mengenai potensi maritim Indonesia di kantor DPP LDII, Senin (14/04). Singgih yang juga Ketua DPW LDII Jawa Tengah dan anggota Dewan Pakar LDII memaparkan pentingnya menggagas konsep pembangunan negara yang sesuai jati diri bangsa, terutama dalam bidang kelautan.

Ketua DPD LDII Jawa Tengah Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum mengatakan bahwa potensi maritim Indonesia bukan hanya berisi pelayaran dan perdagangan, tapi juga pertahanan dan keamanan.

Ketua DPD LDII Jawa Tengah Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum mengatakan bahwa potensi maritim Indonesia bukan hanya berisi pelayaran dan perdagangan, tapi juga pertahanan dan keamanan.

“Sebuah negara maritim harus memiliki pondasi yang jelas. Baik politik, ekonomi maupun kebudayaan. Belajar dari kerajaan Majapahit yang mensinergikan daratan dengan lautan dan Sriwijaya yang responsif dengan lingkungan geostrategis. Sehingga, Sriwijaya pernah diakui sebagai kerajaan bahari terbesar di Asia Tenggara dan Majapahit berkembang menjadi kerajaan dengan wilayah kekuasaan luas,” ujar Singgih.

Bukti sejarah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memang pernah menjadi negara maritim yang jaya. Terlebih lagi dengan adanya fenomena diaspora maritim sejak sekitar 3 ribu SM berdasarkan karakter terbuka dari geografi Indonesia ‘mentakdirkan’ kepulauan Indonesia menjadi bagian inheren pelayaran dan jaringan perdagangan internasional, selain menimbulkan keanekaragaman bahasa dan suku bangsa. Bukti sejarah yang lain menunjukkan sejak abad kedua masehi, telah terjadi hubungan dagang antara Indonesia dan India yang merupakan negara adidaya saat itu setelah Cina.

Para peserta fgd kali ini berasal dari DPW LDII se-Jabodetabek. Mereka kritis mengenai sejarah kelautan Indonesia yang ditenggelamkan melalui pendidikan berbasis daratan.

Para peserta fgd kali ini berasal dari DPW LDII se-Jabodetabek. Mereka kritis mengenai sejarah kelautan Indonesia yang ditenggelamkan melalui pendidikan berbasis daratan.

 “Orang-orang di Jawa tidak mengkonsumsi komoditas rempah atau hasil hutan dalam skala besar, namun diekspor kembali ke negara-negara sebelah barat. Itulah yang membuat terjadinya semacam barter dimana orang lokal memperoleh tekstil dengan menjual rempah,” ungkap Singgih.

Senada dengan Singgih, Dr. Hendrik E. Niemeijer yang juga merupakan staf pengajar Undip mengemukakan, “Perkembangan bersama dalam pelayaran dan perdagangan di akhir abad pertengahan menunjukkan bahwa pedagang-pedagang dunia di abad 15 telah saling berhubungan. Dan pada periode 1450-1680 dikenal dengan ‘Age of Commerce’ menurut Anthony Reid,” ujar Niemeijer.

Setelah Islam mulai menyebar di kalangan pedagang-pedagang pribumi dan Malaka jatuh ke tangan Portugis, pertumbuhan ekonomi sepanjang pesisir utara Jawa justru tumbuh. Hal ini membuat kerajaan baru seperti Mataram ingin menguasai, begitu juga dengan Portugis. Dan pada abad 17, ketika Belanda datang dengan perusahaan dagangnya VOC, kota perdagangan yang lemah dapat dikuasai dan dimonopoli. Kebijakan monopoli VOC yaitu dalam menentukan harga jual produk lokal dan pelarangan menjual kepada Eropa lainnya.

Pedagang pribumi dipaksa menyesuaikan diri dengan situasi di mana Belanda mendominasi pelayaran dan perdagangan di kepulauan Indonesia. Sejak itulah, gaung Indonesia sebagai negara maritim terputus. Karena itulah, Singgih juga menegaskan bahwa tugas generasi sekarang dan yang akan datang untuk menyelesaikan ‘takdir sejarah’ sebagai negara maritim besar di masa mendatang sesuai jati diri bangsa Indonesia.

Pembangunan negara maritim pun tidak dapat dilakukan secara parsial. Harus memiliki pondasi jelas dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Di mana politik mencakup aspek ideologi, pertahanan dan keamanan, ekonomi mencakup aspek sistem ekonomi, produksi dan distribusi dan budaya mencakup aspek pendidikan, kelembagaan dan peran rakyat dalam membangun negara maritim. Untuk membangun negara maritim yang kuat pun, diperlukan visi atau cara pandang kelautan yang kuat dengan memandang wilayah daratan atau kepulauan sebagai bagian dari wilayah laut. Dengan demikian, akan mempengaruhi cara pendefinisian negara Indonesia sebagai negara maritim.

Indonesia dapat dikatakan negara maritim bila dengan kekuatan dan kemajuan teknologi maritimnya dapat memanfaatkan potensi laut yang dimiliki secara sinergis. Dengan pertumbuhan ekonomi di masa kini yang positif, bukan tidak mungkin Indonesia masuk dalam daftar sebagai negara maju.

“Namun, hingga saat ini, sumber daya kelautan masih dipandang ‘sebelah mata’. Kalaupun ada kegiatan yang memanfaatkan itu umumnya kurang profesional dan kurang mengindahkan aspek kelestarian sumber daya alam”, ungkap Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, yang merupakan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Mantan Menteri Kelautan Dan Perikanan era Gus Dur serta Megawati, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. mengatakan seluruh ekspor minyak melalui pelabuhan milik Singapura dan tidak sama sekali melalui pelabuhan milik Indonesia.

Mantan Menteri Kelautan Dan Perikanan era Gus Dur serta Megawati, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. mengatakan seluruh ekspor minyak melalui pelabuhan milik Singapura dan tidak sama sekali melalui pelabuhan milik Indonesia.

Rokhmin memaparkan pembangunan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu dan berbasis inovasi yang diharapkan dapat mengatasi kondisi, potensi dan permasalahan pembangunan kelautan Indonesia serta dinamika lingkungan global. Masih menurut Rokhmin, pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus didahului pembenahan kebijakan dan implementasi manajemen untuk mencapai lima tujuan yaitu, peningkatan kesejahteraan nelayan, pembudidaya dan stakeholder lainnya, peningkatan daya saing dan kontribusi sektor laut, peningkatan kecerdasan dan kesehatan bangsa dengan mengonsumsi ikan, pemeliharaan daya dukung dan kualitas ekosistem laut, pesisir dan air tawar, dan menjadikan laut untuk memperkokoh kedaulatan dan kesatuan wilayah NKRI.

“Jika kita mampu melaksanakan pembangunan kelautan sebagai platform pembangunan ekonomi bangsa, InsyaAlloh, paling lambat tahun 2030 Indonesia menjadi negara maju, adil-makmur, bermartabat dan diridhoi Alloh SWT. Pada akhirnya, masa depan pembangunan Indonesia berbasis sumberdaya kelautan akan berpulang pada sejauh mana keputusan politik pemerintah dan rakyat Indonesia mendukung paradigma tersebut,” jelas Rokhmin. (Noni/LINES)

sumber: http://www.ldii.or.id/

Kategori:Artikel Kegiatan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.